
Sejarah Singkat Pendidikan Kedokteran Hewan di Indonesia Pendidikan kedokteran hewan di Indonesia mempunyai sejarah yang panjang. Program pengembangan peternakan di zaman Belanda dahulu, terutama ternak besar, memerlukan tenaga-tenaga ahli kesehatan hewan, yang pada masa itu (pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20) amat langka. Pada tahun 1851 tercatat hanya dua orang dokter hewan bangsa Belanda. Sementara berbagai penyakit menular berjangkit di Indonesia. Melihat keadaan itu Pemerintah Penjajahan Hindia Belanda membuka sebuah sekolah dalam bidang kedokteran hewan di Surabaya pada tahun 1861 di pimpin oleh Dr, J, Van der Weide. Siswa yang diterima adalah para “bumi putera”, dengan lama pendidikan dua tahun. Namun ternyata upaya ini kurang berhasil, karena selama sembilan tahun hanya delapan orang “Dokter Hewan Bumi Putera” (Inlandsche Veearts) yang dihasilkan. Akhirnya sekolah itu ditutup pada tahun 1875. Namun pendidikan dokter hewan dilanjutkan dalam bentuk lain, yaitu berupa magang pada “Dokter hewan Gubernemen” (Gouvernements Veearts= Dokter Hewan Pemerintah). Dalam periode 1875 – 1880 tercatat ada sembilan pemuda” bumi putera” yang magang pada tujuh orang dokter hewan Gubernemen, delapan orang di antaranya pada tahun 1880 diluluskan sebagai “Inlandsche Veearts”. Meskipun pengetahuan dan kemampuan para dokter hewan “ bumi putera” itu dinilai sangat memuaskan, namun pemerintah dalam hal ini Departemen Kepamongprajaan (Binnenlands Bestuur), berpendapat pendidikan dokter hewan perlu diselenggarakan secara intensif. Maka Direktur B.B lalu mengusulkan agar pendidikan dokter hewan ini diselenggarakan seperti halnya pendidikan “ Dokter bumiputera” (Inlandsche Geneeskundige ) pada STOVIA ( School tot Opleiding van Indische Artsen = Sekolah Dokter Djawa). Bahkan diusulkan pula agar pendidikan dasarnya disatukan saja dengan STOVIA. Meskipun usul ini pada prinsipnya disetujui oleh Menteri Urusan Jajahan (Minister van Kolonien) pada pemerintah Kerajaan di Negeri Belanda, namun karena keberatan yang sangat dari Direktur Departemen Penjajahan, Keibadatan dan Kerajinan (Onderwijs, Eeredienst en Nijverheid) maupun dari Direktur STOVIA, usul tadi tidak jadi dilaksanakan.
Pada tahun 1907 didirikan Laboratorium Kedokteran Hewan atas usul Direktur Departemen Pertanian, Kerajinan dan Perdagangan (Landbouw, Nyverheid en Hande) Prof Dr. Melchior Treub yang digabungkan dengan Klinik Hewan dan kursus untuk mendidik dokter hewan bumi putera. Lama pendidikan 4 tahun dan siswanya lulusan dari HB S dan sekolah Pertanian Menengah (Middlebare Landbouw School).
Pada tahun 1910, kursus dokter hewan diubah menjadi Sekolah Dokter Hewan Bumi Putera (Inlandsche Veeartsen School) dan pada tahun 1919, sekolah tersebut dipisahkan dari Laboratorium, yang akhirnya pada tahun 1920, berdirilah Nederland Indische Veeartsen School (NIVS) yang semula untuk mendidik ahli tingkat menengah sebagai pembantu dokter hewan keluaran Utrecht. Dalam perkembangannya ternyata lulusan NIVS mampu menyamakan kualitasnya dengan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Utrecht. Pada umumnya lulusan NIVS ini dipraktek kerjakan sebagai Gouvernement Indi sche Veearts, yang antara lain ditugaskan :
- Memajukan, memperbaiki dan melipatgandakan hewan ternak termasuk pula unggas.
- Memberantas penyakit hewan menular dan mengatur ekspor dan impor ternak
- Memajukan dan memelihara kesehatan temak .
Ada orang yang bekerja sebagai tenaga ahli (wetenschappehjk assist) pada "Veeartsen ljkundidig Insti tuut" (selanjutnya namanya Lembaga Pusat Penyakit Hewan) dan NIVS di Bogor.
Selain itu juga dapat dipekerjakan sebagai dokter Hewan daerah yang berpemerintahan sendiri (localle resoten; gemeenten dan regentschappen) dan tugasnya adalah menjalankan veterinair hygiene, yang antara lain meliputi:
- pemeriksaan makanan untuk manusia berasal dari ternak
- pengawasan perusahaan susu dan daging,
- pengawasan perusahaan andong, dokar dan grobag,
- pengawasan pasar hewan, ada beberapa dari mereka yang dibebani pula pabrik limun dan air soda serta perusahaan tahu.
Dokter hewan pemerintah diperbolehkan menjalankan praktik partikelir (swasta ) akan tetapi demi kepentingan dinas, praktik ini dapat dilarang. Sesudah bekaja selama 2 -5 tahun, banyak diantara mereka yang menjadi dokter hewan kepala daerah (ambtslringhoo/d) dengan tugas dan kewajiban yang sama dengan dokter hewan lulusan Utrecht. Setelah tahun 1920, wilayah kedokteran hewan (Veeartsenjkundige ambtskring) an di im in oleh lulusan NIVS mencapai sekitar 60%.
Pemegang ijasah NIVS dapat melanjutkan pelajarannya di Veeartsenijkundige Fakulteit di Utrecht dengan mendapat kebebasan ujian kandidat sehingga pelajaran dapat diselesaikan dalam waktu 3 tahun. Kesempatan ini digunakan oleh 10 orang.
Waktu penjajahan Jepang di Indonesia, Sekolah Dokter Hewan (NIVS) ditemskan dengan nama Zui Semon Gakko, kemudian pada jaman pemerintahan Indonesia diubah menjadi sekolah dokter hewan.
- 1. Soeparwi, jabatan waktu itu Inspektur Jawatan Kehewanan Jawa Tengah merangkap Wakil Kepala Jawatan Kehewanan, sebagai ketua.
- Samsoe Pocposoegondo, jabatan waktu itu Dokter Hewan Drv sebagai penulis.
- Atmodipoero, jabatan waktu itu Inspektur SMP di Magelang sebagai anggota
- Iso Reksohadiprojo, jabatan waktu itu Dirjen Kementrian Kemakmuran di Magelang sebagai anggota .
- Soeparman Poerwosoedibjo, jabatan waktu itu Kepala perekonomian Kota prajaa Cirebon, sebagai anggota.
- Djaenoedin, jabatan waktu itu Direktur Balai Penyelidikan Penyakit Hewan di Bogor, sebagai anggota.
- Moh. Roza, jabatan waktu itu Dokter Hewan pada BPPH di Bogor, sebaga anggota.
- Mohede, jabatan waktu itu Direktur Sekolah Dokter Hewan di Bogor, sebaga anggota.
- Garnadi, jabatan waktu itu Guru Sekolah Dokter Hewan Bogor, sebagai anggota
- Hoctanradi, jabatan waku itu Inspekur Jawatan Kehewanan di Jawa Timur. sebagai anggota.
- Slamet, jabatan waktu itu Dokter Hewan Kotapradja Malang, sebagai anggota
Sumber : diolah dari www.fkh.ipb.ac.id dan www.fkh.ugm.ac.id